Bagaimana saya mengenal siapa saya?
Apa yang saya pahami tentang diri saya?
Bagaimana saya merasakan pengalaman-pengalaman yang saya alami?
Apa yang Tuhan ingin katakan kepada saya melalui pengalaman-pengalaman itu?
Siapa Tuhan bagi saya?
Bagaimana saya dapat melihat hari esok?
Pilihan hidup apakah yang saya harus ambil untuk hidup saya di depan?
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat fundamental ketika kita memutuskan melakukan perjalanan hidup dengan sungguh-sungguh, terlebih lagi perjalanan rohani. Namun, pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak mudah untuk kita jawab karena seringkali semua itu terletak bukan pada “line utama” yang tertuliskan secara jelas namun sebagai sesuatu yang tersirat “between the lines”, yaitu di antara baris-baris, tersembunyi di ruang kosong dalam kisah hidup kita.
Di sinilah letak ironinya: pertanyaan yang paling penting bagi perjalanan hidup kita justru pertanyaan yang paling sulit kita jawab.
Bapa Gereja, Agustinus sudah mengetahui hal ini sejak lama. Setelah mencari Tuhan ke mana-mana, akhirnya ia menulis:
"You were within me, but I was outside." — Augustine, Confessions, Book X Chapter 27
Pencarian itu bergerak keluar, sementara jawabannya menanti di dalam. Yang kita butuhkan bukanlah lebih banyak informasi, melainkan sebuah cara memandang.
Sebuah Metode yang Saya Pinjam
Kesulitan ini membawa saya pada sebuah metode yang sederhana yang dapat membantu kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan itu. Metode ini saya “curi” dari seorang mentor ketika saya melihatnya di postingan Instagram Story, di mana ia menggunakan kartu imajinatif untuk berdoa. Saya tahu kartu itu karena saya memilikinya. Saya tidak tahu persis cara bagaimana kartu itu digunakannya untuk berdoa. Tapi saya mencoba mengunakannya dalam konteks dan dengan cara yang terpikirkan oleh saya.
Kartu itu adalah kartu-kartu yang berisi gambar imaginative (yang pasti bukan kartu tarot). Kartu ini adalah kartu yang dimainkan di dalam sebuah board games. Saya menggunakan kartu-kartu ini untuk berdoa. Sudah beberapa kali saya menggunakan kartu-kartu itu untuk mengajak orang-orang yang saya ajak berdoa untuk merefleksikan hidup mereka dengan kartu-kartu yang mereka pilih yang menarik bagi mereka.
Kartu-kartu itu dapat membantu mereka menemukan apa yang tersembunyi “between the lines” dalam pengalaman hidup mereka, sehingga yang terkubur dapat ditemukan, dan yang terselubung dapat tersingkapkan. Saya percaya karena kartu-kartu ini digunakan untuk berdoa, maka Roh Kuduslah yang bekerja menyingkapkan apa yang Tuhan ingin mereka lihat tentang hidup mereka, tentang tantangan yang mereka alami, tentang persepsi mereka tentang Tuhan dan masa depan yang ada di depan. Sejatinya, metode yang sederhana ini dapat membukakan sebuah dimensi lain dalam hidup mereka yang selama ini terkubur dan tidak terjamah.
Meister Eckhart mengatakan sesuatu yang penting berkaitan dengan hal ini:
Mata yang dengannya aku memandang Tuhan adalah mata yang sama yang dengannya Tuhan memandang aku; mataku dan mata Tuhan adalah satu mata, satu penglihatan, satu pengenalan, satu kasih.
Memandang tidak pernah berjalan satu arah. Ketika kita memandang sebuah gambar dalam doa, saat itu juga kita sedang dipandang.
Satu Kartu, Tiga Suara
Dari semua pengalaman memimpin doa kreatif dengan imaginative cards ini, ada satu kartu yang menarik perhatian saya, karena satu kartu ini berbicara kepada 3 orang dengan refleksi yang berbeda-beda.

**Orang pertama **berfokus pada tanah yang kering dan retak serta awan gelap di atasnya. Ia melihat bahwa awan itu sebagai tanda hujan yang akan turun, jalan keluar bagi kekeringan di bawahnya. Hal itu membawanya untuk percaya bahwa Tuhan pasti menyediakan jalan keluar, bahkan melalui jalan yang paradoks — melalui awan gelap, yang biasanya kita anggap sebagai lambang kesuraman.
Orang kedua berfokus pada tanah yang kering dan pada keindahan yang tetap muncul dari kesulitan dan pergumulan — sekuntum bunga yang mekar di tanah yang retak. Hal itu menggerakkannya untuk melihat bahwa Tuhan menghadirkan keindahan ke dalam dunia justru melalui kerapuhannya.
Orang ketiga, pada momen yang berbeda, tidak kalah mengesankan. Ia pun melihat awan gelap sebagai tanda hujan yang segera turun, jawaban atas kekeringan itu. Tetapi ia menangkap sesuatu yang lain: tanaman itu tidak sabar. Daunnya sendiri terulur ke atas untuk mencabut mahkota bunganya sendiri, melukai dan menghancurkan dirinya sendiri justru tepat sebelum hujan tiba. Tuhan berbicara padanya bahwa ia harus sabar di tengah-tengah masalah besar yang ia alami.
Satu gambar membuka begitu banyak refleksi, begitu banyak dimensi. Roh Kudus seolah menari di dalam ruang kreatif, ruang yang bebas dan terbuka, dalam diri orang yang membuka hatinya untuk diam dalam hadirat Tuhan. Seperti kata Yesus tentang Roh, angin bertiup ke mana Ia mau — demikian pula Roh Kudus, bahkan melalui sebuah kartu bergambar biasa di atas meja.
Bukan Metode yang Baru
Sebenarnya metode ini bukanlah metode yang baru. Pendekatan yang sama digunakan dalam Visio Divina, praktik mendengarkan Tuhan melalui gambar atau lukisan, yang biasanya berupa lukisan kisah Alkitab.
Namun, menggunakan gambar-gambar imajinatif dengan langkah-langkah Visio Divina memberi kita sebuah konfirmasi: Roh Kudus dapat bekerja dan berbicara bukan hanya melalui kisah-kisah Alkitab, tetapi juga melalui gambar-gambar biasa dan kreatif — gambar-gambar yang sangat dekat dengan kehidupan manusia modern hari ini.
Ignatius dari Loyola membangun seluruh spiritualitasnya di atas keyakinan ini: "Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu." Bukan hanya dalam hal-hal yang sakral. Dalam segala sesuatu.
Rahasianya Ada pada Tatapan
Visio Divina dan Creative Prayer dengan Imaginative Cards menjadi sangat efektif sebenarnya bukanlah karena metodenya atau bukan pula pada gambar yang digunakan. Melainkan pada language atau mungkin lebih tepatnya “Gazing” atau Tatapan yang digunakan ketika mengamati gambar-gambar itu. “Tatapan” itulah yang dikenal dengan sebutan “Contemplative Gaze.”
Lalu, apa itu Contemplation?
Saya akan membahasnya pada tulisan saya yang berikutnya.
