Christian Leader of the Future (Part 1): Relevant

“Too often I looked at being relevant, popular, and powerful as ingredients of an effective ministry. The truth, however, is that these are not vocations but temptations” – Henri J. M. Nouwen

Menjadi relevan, menjadi populer dan memiliki kekuasaan merupakan hal yang diharapkan oleh seorang pemimpin. Adalah sebuah kebahagiaan jika seorang pemimpin dapat menjadi relevan karena dapat memberikan jawaban bagi masalah kini. Adalah sebuah kabanggaan jika seorang pemimpin menjadi seorang yang dikenal oleh banyak orang. Adalah sebuah kepuasan jika seorang pemimpin memiliki kuasa untuk melakukan kontrol terhadap orang-orang yang ia pimpin. Ketika ketiga hal ini dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita akan menyebutnya sebagai pemimpin yang efektif. Pemimpin yang menunaikan penggilannya. Pemimpin yang sukses.

Namun, Nouwen tidak sepakat dengan narasi di atas. Ia justru menyebut ketiga hal tersebut sebagai PENCOBAAN (temptation) bagi seorang pemimpin.

Inilah yang kadang terjadi juga pada diri kita: “apa yang kita inginkan justru menjadi pencobaan bagi diri kita sendiri” atau dalam kalimat yang dikatakan Yakobus, “temptation comes from our own desires which entice us and drag us away.” Pemimpin yang berpikir bahwa ketiga hal itu adalah sesuatu yang perlu dikejar, sebenarnya sedang membawa dirinya sendiri masuk ke dalam pencobaan. Pemimpin Kristen yang demikian bukanlah pemimpin yang sedang mengikuti panggilan yang mulia dari Yesus, melainkan menjauh dari panggilan itu.

Lalu, apa yang harus kita kejar sebagai seorang pemimpin Kristen? (I am not only talking  about church leaders, but everyone who calls themselves as a christian and leader)

Berdasarkan narasi tentang pencobaan Yesus di padang gurun dan percakapan Yesus dengan Petrus setelah kebangkitan Yesus, serta pengalamannya melayani di Daybreak Toronto (komunitas orang-orang catat mental L’Arche), Nouwen menjelaskan bagaimanakah seharusnya menjadi Pemimpin Kristen di masa depan.[1]

Bukan menjadi pemimpin yang RELEVAN, tetapi menjadi pemimpin yang MENCINTAI Tuhan

Relevan adalah kata yang penting di abad ini, karena menjadi irrelevant akan membuat kita ditinggalkan. Jika fokus dari leadership adalah pengaruh, maka menjadi relevan adalah pintu untuk menanamkan pengaruh itu. Namun, Nouwen memandang hal ini dari perspektif yang berbeda. Ia memandang menjadi relevan itu sebagai pencobaan bagi seorang pemimpin. Pencobaan pertama dari Iblis kepada Yesus yang sedang lapar di padang gurun adalah mengubah batu menjadi roti. Adalah sesuatu yang relevan untuk mengubah batu menjadi roti di saat lapar. Tetapi Yesus menolak hal tersebut. Ia tidak ingin membuktikan diri-Nya sebagai Anak yang dikasihi Bapa dengan menunjukkan diri bahwa ia memiliki kuasa untuk menjadi relevan dengan mengubah batu menjadi roti. Nouwen berkata: “the Christian Leader of the future is called to be completely irrelevant and to stand in this world with nothing to offer but his or her own vulnerable self. The great message that we have to carry is that God loves us not because of what we do or accomplish, but because God has created and redeemed us in love and has chosen us to proclaim that love as the true source of all human life.”

Bukankah adalah hal yang baik jika sebagai pemimpin kita menjadi relevan dengan memberikan jawaban atas apa yang dibutuhkan oleh dunia di sekitar kita, di mana kita memiliki competence untuk berguna bagi dunia? Tentu hal ini adalah baik sekaligus penting, namun dunia modern dengan sekularisasinya akan dengan sombong berkata bahwa mereka memiliki competence untuk menjawab sendiri masalah dunia. Jika kita sakit, bukankah kita bisa pergi ke dokter? Jika kita miskin, kita dapat memilih politisi yang handal. Jika ada masalah teknis, kita dapat memanggil teknisi yang mahir. Jika ada perang, kita dapat memanggil seorang negotiator yang berhikmat. Dunia tidak kurang competence. Dunia dapat memiliki kekayaan, kesuksesan, popularitas dan kekuasaan dengan competence yang ada. Namun, ironis sekali bahwa di tengah-tengah gemerlap dunia yang demikian, loneliness ditemukan hampir di semua level masyarakat.[2] Nouwen berkata banyak orang berteriak: “Is there anybody who loves me; is there anybody who really cares? Is there anybody who wants to be with me when I am not in control, when I feel like crying? Is there anybody who can hold me and give me a sense of belonging?” Dunia tidak butuh batu diubah menjadi roti, tetapi membutuhkan Firman Tuhan yang berkata: God loves us unconditionally, He is always with us, for us and ahead of us, His love is the true source of our lives.

Ketika Yesus datang kepada Petrus, Ia tidak bertanya kepada Petrus: Berapa banyak yang sudah kau lakukan? Apakah hasil dari pelayananmu? Kesuksesan apa yang sudah kau capai? Bahkan Yesus pun tidak mengevaluasi kegagalan dari Petrus karena sudah menyangkal Yesus. Yesus hanya berkata: Do you love me? Do you love me? Do you love me? Yesus ingin Petrus memahami bahwa Yesus tetap mengasihinya di dalam kegagalannya, dan Yesus juga merindukan Petrus merespons kasih yang tanpa syarat itu.

Pencobaan untuk menjadi relevan dapat datang kapan pun dan di mana pun. Kita harus tetap tinggal di dalam kasih Allah. Karena kita mudah sekali diombang-ambingkan dari satu masalah ke masalah yang lain. Kepemimpinan kita hanya mengikuti tuntutan dari satu kelompok ke kelompok lain. Kita harus memiliki sebuah disiplin yang menolong kita untuk tetap tinggal dalam kasih itu. Nouwen menyebut disiplin itu sebagai DOA KONTEMPLASI. Ia berkata: “Contemplative prayer deepens in us the knowledge that we are already free, that we have already found a place to dwell, that we already belong to God, even though everything and everyone around us keeps suggesting the opposite.”

Menjadi Pemimipin Kristen tidak cukup hanya dengan menjadi seorang bermoral, terlatih dalam menggali Alkitab dan mengkomunikasikannya, berempati ingin menolong orang lain dan dapat memberikan respons yang kreatif tentang isu-isu di abad ini: Semuanya ini penting tetapi bukan inti dari Kepemimpinan Kristen. Inti dari kepemimpinan Kristen adalah kerinduan untuk selalu tinggal dalam hadirat Tuhan, mendengarkan suara-Nya dan memiliki kekaguman akan keindahan-Nya. Disiplin Doa Kontemplasi menolong kita untuk memilikinya.

Melalui disiplin doa kontemplasi, pemimpin Kristen belajar mendengar, mendengar dan mendengar lagi suara dari sang Kasih (bukankah disiplin ini adalah hal tersulit, karena seorang pemimpin dilatih untuk cakap berbicara?), sehingga mendapatkan hikmat dan keberanian untuk menjawab isu apapun yang ada di hadapan kita. Nouwen berkata: “Dealing with burning issues without being rooted in deep personal relationship with God easily leads to divisiveness because, before we know it, our sense of self is caught up in our opinion about a given subject.”

Ketika kita memiliki keintiman pribadi dengan Tuhan yang demikian, maka it will be possible to remain flexible without being relativistic, convinced without being rigid, willing to confront without being offensive, gentle and forgiving without being soft, and true witnesses without being manipulative.

Selamat menjadi irrelevant di dalam sang Kasih melalui disiplin kontemplasi!

 

Next Post: Christian Leader of the Future (Part 2): Popularity…

 

[1] Henri J.M. Nouwen, In the Name of Jesus: Refelctions on Christian Leadership (Mumbai: St. Pauls, 2009),

[2] Nouwen dalam bukunya menceritakan kisah dalam Novel Less Than Zero yang ditulis oleh Bret Easton Ellis, tentang anak-anak remaja dari kalangan keluarga yang super kaya di Los Angeles, namun terlibat di dalam kehidupan seks bebas, narkoba dan pergaulan bebas. Anak-anak remaja ini hidup dalam kegemerlapan kekayaan dan kemewahan, namun merasa kesepian dan kehampaan, yang membawa mereka mencari pelarian pada seks, narkoba dan pergaulan bebas. Kondisi ini banyak ditemukan di dalam kehidupan anak remaja dan anak muda kini. Mereka tidak kurang hiburan, berkecukupan, orang tua yang cukup perhatian, memiliki teman-teman tetapi tetap merasakan loneliness dalam hatinya.

(Visited 79 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *