Review Buku “Tafsir Surat Kolose” (Armand Barus)

Apakah yang diharapkan dari sebuah buku tafsir Surat Kolose berbahasa Indonesia oleh Sarjana Alkitab Indonesia dan di bawah judul besar “Tafsir Alkitab kontekstual-oikumenis: Surat Kolose”?

  • Buku tafsir ini dapat membawa kekayaan eksegesis kitab ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh para pembaca dan pelayanan Tuhan di Indonesia yang ingin mendalami surat Kolose.
  • Buku tafsir ini harus bersifat kontekstual, di mana makna teks harus ditafsirkan sesuai dengan konteks pembaca pertama, dan dapat membawa makna teks itu ke dalam konteks budaya, sosial dan agama di Indonesia. Hal ini menjadi harapan yang baik, di tengah banyaknya buku tafsir Alkitab dari perspektif Barat.
  • Buku tafsir ini harus bersifat oikumenis, artinya dapat diterima oleh berbagai dominasi di Indonesia, karena itu berbagai perspektif penafsiran terhadap surat Kolose harus menjadi pertimbangan penulis.

Yang menarik dari tafsiran ini adalah berdasarkan pengamatan yang cermat terhadap teks dan sumber-sumber kuno  kota Kolose, maka penulis menyimpulkan konteks kota dan Jemaat Kolose demikian:

  • Kota Kolose adalah sebuah kota kecil, yang kejayaannya sudah memudar ketika surat Kolose ini ditulis, terlalu kecil untuk menjadi pusat kekristenan.
  • Jemaat di Kolose kemungkinan didirikan oleh Eprafas, salah seorang murid Paulus yang mengikuti pendidikan teologi di ruang kuliah Tiranus di Efesus. Meskipun jemaat ini tidak langsung didirikan oleh Paulus, namun jemaat ini diklasifikasikan sebagai jemaat asuhan Paulus (Pauline Community).
  • Berdasarkan catatan tentang tidak populernya kota ini di zaman itu, maka bagi penulis tampaknya hal ini tidak menjadi daya tarik bagi komunitas Yahudi untuk tinggal di kota ini. Bahkan kemungkinan besar keberadaan komunitas Yahudi sudah tidak ada lagi di Kolose. Tidak ada laporan bahwa kota Kolose memiliki warga keturunan Yahudi. Jemaat Kolose berlatar belakang non-Yahudi, hal ini diperkuat bahwa mereka beribadah di rumah Nimfa (4:15) dan rumah Filemon (Flm.1:2), keduanya adalah orang non-Yahudi. Hipotesa yang menjelaskan bahwa jemaat ini lahir dari sinagoge tidak dapat dipertahankan.
  • Surat Kolose mengindikasikan bahwa kehidupan jemaat secara umum sangat baik dan positif, sehingga tidak ada masalah pastoral yang serius yang perlu diresponi. Surat Kolose ditulis lebih merupakan dorongan pastoral ketimbang respon pastoral terhadap situasi jemaat yang sedang dilanda masalah (p. 7-8).

Penulis secara eksplisit mengakui mendapatkan pengaruh yang kuat dari 2 tokoh penafsir surat Kolose terdahulu, yaitu Eduard Lohse (1971) dan Peter O’Brien (1982) (p. xi), termasuk yang berkaitan dengan pemahaman konteks surat Kolose ini. Pemahaman konteks yang demikian sangat penting di dalam penafsiran teks.

Penulis menjelaskan bahwa pembicaraan Paulus dalam surat ini kepada jemaat perlu dipahami dari dua sisi: pihak jemaat dan pihak Paulus, sebab komunikasi harus bersifat dua arah. Namun data untuk menemukan informasi tentang jemaat Kolose sangat terbatas, yang kita miliki hari ini hanyalah tanggapan Paulus terhadap situasi dan keadaan jemaat Kolose, yaitu Surat Kolose. Perlu dilakukan rekonstruksi sejarah untuk memahami pembicaran Paulus dalam surat Kolose ini. Penulis menggunakan prosedur merekonstruksi jemaat Kolose terlebih dahulu baru mendengar suara Paulus dalam suratnya (p. 9-10)

Berdasarkan prosedur ini ada 2 jawaban umum yang dihasilkan, antara lain: Pertama, ada masalah di Jemaat Kolose (masalah yang muncul dari ajaran Gnostik, Yudaisme, Agama Suku yang menjerat jemaat ke dalam sinkretisme, dan masalah dari penyembahan Kaisar – Imperial Worship). Jawaban kedua, tidak ada masalah di dalam jemaat Kolose.

Berkaitan dengan 2 jawaban umum ini, penulis tampaknya lebih condong kepada jawaban kedua, bahwa tidak ada masalah di jemaat Kolose, sebab surat Kolose bernuansa sangat positif. Penelitian teks dalam dan teliti yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa di dalam jemaat tidak ada konflik atau perpecahan karena ajaran sesat  yang datang dari luar jemaat. Kemungkinan yang terjadi adalah adanya masalah yang muncul dari dalam jemaat, di mana jemaat yang masih muda ini ingin kembali kepada praktif-praktik kepercayaan yang dulu (sinkretisme) atau potensi konflik yang muncul karena Imperial Worship yang mulai muncul. Namun, secara garis besar, penulis meyakini bahwa tidak ada masalah yang serius di dalam jemaat Kolose ketika Paulus menulis suratnya.

Meskipun pandangan ini sebenarnya masih menjadi perdebatan di antara para Sarjana Alkitab masa kini. Namun, tampaknya penulis cukup berani untuk memberikan kesimpulannya berkaitan dengan konteks sejarah dari jemaat di Kolose. James D. G. Dunn misalnya berpendapat bahwa jemaat Kolose mendapatkan ancaman yang sama dengan yang dialami oleh jemaat di Galatia, yaitu ancaman Yudaisme, namun asumsi ini ditentang penulis mengingat keberadaan orang Yahudi di Kolose hampir tidak ditemukan.

Penulis bahkan dengan sangat berani mengatakan masalah yang terindikasi di dalam  Kolose 2:4 adalah masalah yang berasal dari dalam jemaat itu sendiri, bukan dari kalangan Yahudi di kota Kolose seperti yang diasumsikan oleh Dunn. Di dalam jemaat Kolose muncul pemberita-pemberita firman Tuhan yang menyampaikan firman dalam bentuk populer, namun pemberitanya tidak melakukan apa yang disampaikan sehingga tidak membangun iman jemaat. Pemberita mengajarkan moralitas Kristen yang menawan, tetapi ia sendiri hidup tanpa moral (p.247-248).

Selanjutnya dalam pasal 2:8, penulis juga berargumentasi bahwa memang terdapat ancaman filsafat kebohongan, yaitu kombinasi phrygian folk belief, local folk Judaism, and christianity, ancaman yang dapat membawa jemaat ke dalam sinkretisme dengan menggabungkan iman kepada Yesus dengan praktis magis (p. 280).  Namun, analisa kata yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa ancaman ajaran sesat itu belum terjadi. Kata estai (akan terjadi) di tulis dalam bentuk kala depan (future tense), sesuatu yang sering diabaikan oleh penafsir (p. 273). Meskipun sulit memutuskan ancaman ini berasal dari dalam atau luar jemaat, namun penulis akhirnya menyebutkan bahwa ancaman tersebut adalah ancaman yang berasal dari luar jemaat (p. 281). Kesimpulan penulis ini penting mengingat terdapat perdebatan yang panjang berkaitan dengan konteks jemaat Kolose.

Secara garis besar, penulis telah berhasil secara konsisten mencapai sebuah penafsiran yang kontekstual, karena tidak hanya penguraian tentang konteks dari surat atau jemaat Kolose yang dipaparkan secara mendetail, tetapi penulis juga berusaha untuk membawa penafsirannya ke dalam konteks orang percaya di Indonesia. Penulis juga berhasil menghadirkan sebuah tafsiran yang bersifat oikumenis, karena penulis tidak hanya sekedar menafsirkan teks, tetapi dalam penafsirannya penulis melakukan banyak dialog dengan berbagai pandangan atau penafsiran dari penafsir-penafsir penting Surat Kolose seperti Eduard Lohse, Peter T. O’Brien, James D.G. Dunn, Dauglas J. Moo, F.F. Bruce, N. T. Wright dan lain-lain. Pembaca akan diperkaya dengan penelusuran sejarah penafsiran dan perbedatan dari studi kitab Kolose. Tafsiran ini juga akan mempermudah pembaca, bahkan kaum awam, di dalam memahami surat Kolose, karena penulis menyertakan terjemahan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Indonesia, yang penulis lakukan sendiri; penelitian naskah tentang frasa atau kata yang penting dalam teks; struktur teks;  penjelasan atau penafsiran setiap ayatnya disertai dengan beberapa aplikasi dalam kontekstual; serta usulan rancangan khotbah dari teks yang telah dijelaskan oleh penulis. Tafsiran yang berjumkah 543 halaman ini wajib dibaca bagi orang percaya bahkan para pelayan Firman yang tertarik untuk menikmati kekayaan dari studi surat Kolose.

 

 

 

 

 

 

(Visited 25 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *