GENERATION Z: FAITH & CHURCH

Dalam buku Gen Z: The Culture, Beliefs and Motivations Shaping the Next Generationhasil riset tentang karakteristik dari Generasi Z, generasi yang lahir dari tahun 1999-2015 (usia mereka sekarang antara 2 – 18 tahun), Barna dan Impact 360 Institute juga secara khusus memfokuskan penelitiannya terhadap aspek iman dan spiritualitas dari Gen Z.

Barna menggambarkan bahwa orang Kristen masa kini hidup di dalam budaya digital Babylon. Mereka menggambarkan orang Kristen kini hidup seperti orang Yahudi di dalam pembuangan di Babel. Bangsa Israel di pembuangan di kelilingi dengan budaya yang berbeda dengan budaya ketika mereka hidup di Yerusalem. Barna menggambarkan perbedaan antara Yerusalem dan digital Babylon demikian:

Untuk tetap setia kepada Yahweh, Daniel dan teman-temannya harus menyesuaikan diri mereka dengan realita yang baru di Babel. Mereka tidak dapat memaksakan diri mereka untuk menghidupi budaya di Yerusalem. Mereka harus memikirkan kembali panggilan mereka di tengah-tengah dunia dengan budaya yang baru sehingga rencana Tuhan dapat tergenapi. Hal yang sama juga dihadapi orang Kristen masa kini. Kita hidup di dalam dunia digital Babylon, di mana kita harus memikirkan kembali bagaimana seharusnya kita tetap setia di realita dunia yang berubah ini. Adalah hal yang konyol jika gereja tetap mempersiapkan generasi muda Kristen untuk menghadapi dunia yang tidak ada lagi (dunia Jerusalem). Apakah hari ini kita sedang memuridkan generasi muda untuk Jerusalem ketika kebutuhan yang sesungguhnya adalah memuridkan mereka untuk Babylon?

Di sinilah letak pentingnya riset tentang Generasi Z bagi gereja. Ketika kita memperhatikan karakteristik penting dari Gen Z, maka kita dapat mendengarkan jeritan hati dan kerinduan terdalam mereka. Mereka kini dibentuk dengan nilai-nilai di dalam dunia digital Babylon. Permuridan yang gereja kerjakan seharusnya dapat menolong mereka untuk tetap setia kepada Tuhan di dalam dunia yang demikian.

Berikut ini akan dijelaskan karakteristik khusus dari Gen Z dalam hubungannya dengan iman, spiritualitas dan gereja:

Gen Z & Spiritual Blank Slate

Spiritual Blank slate, artinya mereka tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan rohani sehingga membuat mereka tidak dapat menunjukkan atau mengekspresikan nilai-nilai kehidupan rohani. Jawaban yang akan muncul ketika mereka ditanya tentang hal rohani adalah “I don’t know; I am so confused; not sure.”

Hal ini semakin diyakinkan dengan data bahwa hanya 4 % (dari 69 juta anak dan remaja) Gen Z yang memiliki biblical worldview. Sebagian besar Gen Z yang mengatakan bahwa gereja tidaklah penting tetap menyebut diri mereka sebagai orang Kristen. Akan tetapi, penyebutan identitas Kristen itu tidaklah mengandung makna berarti karena hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, jumlah atheisme berlipat ganda dari generasi sebelumnya (Gen Z memiliki jumlah Atheist 13 % sedangkan Millennials 7 %). Kata Atheist tampaknya bukanlah sebuah kata yang buruk lagi. Sebagian besar Gen Z yang tetap datang ke Gereja adalah karena alasan orang tua mereka. Hanya sedikit yang datang karena pilihan mereka sendiri.

Berkaitan dengan biblical worldview, Barna mencatat terdapat penurunan yang drastis. Persentase orang yang memiliki biblical worldview dari generasi ke generasi semakin menurun: Baby Boomers hanya 10 %, Gen X 7 %, Millennials 6 % dan Gen Z menurun menjadi 4 %. Generasi Z hampir tidak memiliki perspektif dunia dan pandangan hidup yang didasarkan pada Alkitab. Cerita-cerita dan nilai-nilai Alkitab hampir lenyap dari pikiran dan kehidupan generasi ini. Barna menganalisa bahwa penyebab dari penurunan ini adalah karena Gen Z tidak dilahirkan dalam sebuah budaya Kristen. James Emery White menegaskan hal yang sama dalam buku Meet Generation Z (2017) bahwa Gen Z adalah the first truly post-christian generation.[1]

Analisa sangat cocok dengan apa yang dikatakan oleh Filsuf Kristen James K. A. Smith dalam bukunya Desiring the Kingdom (2009): Could it be the case that learning a Christian perspective doesn’t actually touch my desire, and that while I might be able to think about the world from a Christian perspective, at the end of the day I love not the kingdom of God but rather the kingdom of the market?”[2] Gen Z kehilangan kasih-nya kepada hal-hal rohani dan memandang gereja tidaklah penting karena budaya yang mengitarinya adalah sebuah budaya yang hanya menekankan bagaimana untuk hidup sukses secara finansial. Hal ini tentu diafirmasi dengan bagaimana mereka melihat bahwa kebahagiaan adalah tentang memiliki karir dan memiliki kebebasan secara finansial.

Pengajaran yang disajikan di dalam gereja cenderung jatuh ke dalam 2 ekstrim: pertama, yang hanya menekankan pengajaran dan cerita-cerita Alkitab tanpa sebuah aplikasi yang berkorelasi dengan kehidupan praktis orang muda. Kedua, yang menekankan aspek praktis dan kehidupan sehari-hari tanpa sebuah akar pengajaran yang kuat di dalam narasi Alkitab. Yang pertama, akan membuat generasi ini kehilangan pengalaman subjektif di dalam gereja, sehingga gereja menjadi membosankan, dan Tuhan tidak lagi menarik di mata mereka. Yang kedua, membuat generasi ini menjadi sangat pragmatis, sehingga jelas biblical worldview tidak dimiliki oleh generasi ini, bahkan mereka tidak lagi familiar dengan cerita-cerita Alkitab.

Kenda Creasy Dean, memandang bahwa pada akhirnya generasi ini akan secara berani menyebut dirinya sebagai the nones dan tidak lagi ingin terlibat di dalam urusan agama, atau terjebak dalam fenomena MTD (Moralistic Therapeutic Deism), yaitu sebuah karakter yang banyak ditemukan hari ini di dalam diri orang-orang yang tetep bergereja, termasuk di dalamnya generasi muda. MTD muncul karena gereja menawarkan sebuah jenis teologi yang Dean sebut sebagai “diner theology”: a bargain religion, cheap but satisfying, whose gods require little in the way of fidelity or sacrifice.”[3]

Pemahaman ini juga tampaknya mempengaruhi moralitas Gen Z. Terjadi kemorosotan di dalam cara pandang mereka tentang moralitas. Jika 3 dari 5 generasi sebelumnya sangat setuju bahwa berbohong adalah tindakan yang salah secara moral. Namun kini hanya 1 dari 3 Gen Z yang percaya bahwa berbohong adalah salah. Mereka juga cenderung mentoleransi tindakan aborsi (29 %) dan tindakan homoseksual (20 %). Angka tersebut adalah yang terendah dari generasi sebelumnya. Sama seperti generasi Millennials (37 %), Gen Z juga cenderung pesimis dengan komitmen yang panjang dari seorang pria dan wanita di dalam hubungan pernikahan (38 %). Meskipun beberapa budaya melihat bahwa Gen Z adalah generasi yang paling konservatif ketika berhadapan dengan isu seksual. Namun, Barna tidak menemukan bukti terhadap pandangan ini sebab Gen Z cenderung menjadi generasi yang paling liberal ketika berhadapan dengan isu tersebut. Akan tetapi ketika isu seksualitas dan moralitas ini diperhadapkan kepada remaja Gen Z yang terlibat aktif di dalam kekristenan, maka hasilnya sangat berbeda tajam. Mereka mengatakan bahwa berbohong adalah salah (77 %), menggunakan marijuana tidak tepat (63 %), aborsi adalah salah (80 %), pernikahan adalah komitmen jangka panjang (91 %), seks sebelum menikah adalah salah (76 %) dan homoseksual adalah salah (77 %).

Berkaitan dengan cara pandang terhadap Alkitab, persepsi Gen Z tentang Alkitab cenderung mencerminkan persepsi dari Gen X (orang tua mereka). Jika generasi sebelumnya, Millennials cenderung lebih skeptikal terhadap Alkitab. Gen Z cenderung percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan (7 dari 10 orang) yang dapat menolong seseorang mengetahui bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna (41 %). Hal ini berbeda dengan generasi Millennials yang lebih skeptikal (32 %).

Isu yang menjadi tantangan iman bagi Gen Z adalah isu tentang problem of evil (29 %), karena mereka bergumul untuk menemukan argumentasi yang meyakinkan tentang keberadaan kejahatan dan Allah yang baik dan kasih. Isu lain adalah konflik antara science & faith. Gen Z memerlukan bukti yang nyata untuk mendukung kepercayaan mereka (46 %). Dalam hal ini, mereka cenderung dapat diyakinkan dengan apa yang dikatakan oleh para scientist. Hal ini diperburuk dengan persepsi Gen Z yang melihat bahwa gereja cenderung menolak apa yang dikatakan oleh science tentang dunia ini (49 %). Gen Z mengalami kebingungan ketika diperhadapkan dengan isu ini. Jika harus memilih faith atau science, maka Gen Z akan memilih science yang dapat memberikan mereka bukti.[4]

Diskusi tentang relasi science & faith, dapat menjadi jalan masuk bagi para remaja untuk bertemu dengan Tuhan. Dari pada mempertentangkan science dengan iman Kristen, atau melihat keduanya sebagai musuh, dan membuat mereka harus memilih antara science atau faith, Biologos (sebuah wadah yang didirikan oleh Francis Collins, di mana para ahli Alkitab dan Sains berkumpul dan menghasilkan tulisan-tulisan, riset dan pemikiran yang menjembatani science dan bible), menawarkan sebuah pendekatan yang tidak mempertentangkan keduanya, melainkan mencoba melihat keduanya sebagai sesuatu yang berbeda dan tidak dapat dipertentangkan karena menggunakan bahasa yang berbeda, namun keduanya dapat dihubungkan secara komplementer. Kita dapat menciptakan sebuah generasi yang mencintai science tanpa perlu menjadi atheist atau sebuah generasi yang mencintai Tuhan dan science.

Gen Z & Church

Sepertiga dari Gen Z mengatakan bahwa simbol yang tepat untuk gereja adalah salib. Namun, 1 dari 5 berpendapat bahwa gereja identik dengan judgment. Berkaitan dengan komunitas, 1 dari 7 menggambarkan gereja sebagai tempat berkumpulnya orang muda untuk bergandengan tangan untuk berdoa, dan hanya 1 dari 10 yang menggambarkan gereja sebagai kumpulan orang yang mengangkat tangan menyembah.

Gen Z yang secara rutin hadir di gereja melihat gereja lebih positif. Mereka berpendapat bahwa gereja adalah tempat untuk menemukan jawaban untuk hidup yang bermakna, gereja tetap relevan bagi mereka, mereka merasa dapat menjadi diri mereka sendiri di gereja, dan cenderung berpendapat bahwa orang-orang di gereja toleran dengan mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda.

Akan tetapi, secara keseluruhan Gen Z berpendapat bahwa gereja tidaklah penting. Alasannya adalah: 3 dari 5 Gen Z Kristen mengatakan bahwa mereka menemukan Tuhan di tempat lain, dan dalam persentase yang sama Gen Z non-Kristen berpendapat bahwa gereja tidak relevan baginya secara pribadi. Alasan dari non-Kristen tidaklah mengejutkan, karena mereka memang bukan Kristen, tetapi jawaban dari Gen Z Kristen mengindikasikan bahwa paling tidak beberapa gereja tidak menolong memfasilitasi remaja untuk memiliki hubungan dengan Tuhan. Kata irrelevance adalah kata kunci Gen Z ketika berhubungan dengan iman, kebenaran dan gereja. Kekristenan tampaknya selalu bertolak belakang dengan kepercayaan dan sikap pendirian Gen Z.

Gen Z & Parenting

Berkaitan dengan orang tua dari Gen Z, hanya hampir 50 % orang tua Kristen yang pernah berbicara dengan remaja mereka tentang penggunaan yang tepat dari social media  dan relasi antara science & Bible. Hanya sepertiga orang tua Kristen yang berbicara tentang integrasi iman dan karir, bahkan jauh lebih sedikit yang pernah berbicara dengan anak remaja mereka tentang Kehendak Tuhan dalam pilihan kuliah mereka. Hal ini terjadi karena orang tua merasa tidak siap dan tidak nyaman jika harus berbicara dengan anak remaja mereka tentang pertanyaan-pertanyaan yang sulit ini. Hal ini sangat disayangkan sebab area-area ini adalah area yang sangat penting bagi anak remaja mereka.

Tidaklah mengherankan jika dua pertiga dari youth pastor mengatakan bahwa pergumulan terbesar mereka dalam melayani Gen Z adalah orang tua mereka yang tidak memprioritaskan pertumbuhan spiritual anaknya (68 %) dan tidak konsistennya partisipasi orang tua di dalam membina anaknya (45 %).

Gen Z & Discipleship

Akan tetapi, kelemahan tidak hanya terlihat dari sisi orang tua. Program yang ada di dalam gereja pun sepertinya kurang menjawab kebutuhan Gen Z. Salah satunya adalah program di dalam komunitas youth gereja dirasakan oleh orang tua tidak menolong remaja menentukan karir atau panggilan mereka (34 %). Artinya apa yang disajikan di dalam komunitas youth tidak berelasi secara langsung dengan aspek kehidupan praktis dari Gen Z.

Topik apakah yang harus ada di dalam pemuridan terhadap Gen Z?

Topik dasar seperti doa dan saat teduh, bagaimana membaca Alkitab, teologi dasar, asal usul Alkitab, sejarah dan keandalan Alkitab juga masih dibutuhkan.

Topik biblical worldview yang juga penting bagi Gen Z. Empat topik yang paling penting adalah bukti sejarah tentang Yesus; asal usul Alkitab; Science dan Alkitab; percakapan dengan orang yang berbeda kepercayaan. Selain itu juga ada topik tentang problem of evil. George Barna, pendiri dari Barna Group, mengatakan bahwa “mengembangkan sebuah biblical worldview adalah pilar yang esensi dari iman yang teguh.” Pemuridan yang berfokus pada worldview sangat esensi bagi pertumbuhan iman Gen Z. Selain itu, topik tentang truth; dating, marriage & sex; money & finansial freedom; karir & panggilan hidup; dan teknologi juga isu-isu wajib untuk didiskusikan di antara Gen Z.

Networking di dalam parenting & discipleship bagi Gen Z sangat dibutuhkan dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Orang tua perlu belajar dan berkomunikasi dengan youth pastor, demikian juga sebaliknya. Orang tua yang mungkin tidak dibekali dengan isu-isu seperti social media dan science & bible, perlu berkomuniasi dan mau dengan rendah hati belajar dari berbagai sumber yang ada. Pembicara di sekitar meja makan harus menyentuh kepada aspek iman. Topik-topik tentang study dan karis dari Gen Z harus juga dikaitkan dengan iman. Familiaritas diskusi tentang iman dan spiritualitas di dalam rumah akan menolong Gen Z memiliki biblical worldview dan tertarik dengan hal-hal rohani.

Para youth Pastor tidak dapat bekerja dan memuridkan Gen Z sendiri. Kehadiran dan dukungan orang tua dari Gen Z adalah kunci penting di dalam memuridkan generasi ini. Selain itu, para pelayan Tuhan ini perlu meng-update diri dengan isu-isu penting di dalam memuridkan Gen Z. Kesalahan fatal di dalam pemuridan terhadap Gen Z adalah ketika seorang youth Pastor berpuas diri dengan title teologinya dan ilmu dari kuliah seminarinya serta berhenti mempelajari hal-hal baru. Kemampuan melakukan interdisipliner study juga sangat dibutuhkan untuk siap berbicara dengan Gen Z yang kaya dengan berbagai informasi. Ketika Gen Z berkata bahwa gereja irrelevance, maka mungkin secara halus mereka ingin berkata bahwa mereka berhadapan para youth pastor yang irrelevance.  Tentu hal ini sangat menyedihkan.

Kekayaan informasi yang dimiliki oleh Gen Z seharusnya membuka sebuah ruang diskusi bukan sebuah ruang kuliah satu arah. Komunitas youth seharusnya tidak lagi hanya berfokus pada membangun ibadah penyembahan yang wah, melainkan sebuah komunitas hangat yang di dalamnya mereka merasa diterima, dan ada telinga yang mendengarkan ide gila ataupun keraguan mereka, serta bimbingan yang mengarahkan mereka. Seorang youth pastor harus memuridkan Gen Z dengan sebuah pendekatan “tell me more” sebelum pada akhirnya memberikan bimbingannya. Beberapa hal yang menjadi kelemahan youth program, namun sesuatu yang dibutuhkan oleh Gen Z harus segera mendapatkan perhatian penting gereja.

 

Notes:

[1] James Emery White, Meet Generation Z: Understanding and Reaching the New Post-Christian World (Grand Rapids: Baker Books, 2017), 11.

[2] James K. A. Smith, Desiring the Kingdom: Worship, Worldview, and Cultural Formation (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2009), 171.

[3] Kenda Creasy Dean, Almost Christian: What the Faith of Our Teenagers is telling the American Church (Oxford: Oxford University, 2010), 10.

[4] Ketika seorang Gen Z ditanya “apakah sains pernah membuat kamu mempertanyakan imanmu? Maka ia menjawab: “Yeah, like the stuff we’re learning in school today. Not only evolution, but other theories like how the world came to be, that definitely makes you question it because they’re scientists, they study this every day. In the end I’ll still believe in God, but I can’t totally ignore it. It’s there, I learned it in school. There’s nothing I can do about it.” (Gen Z, 65-66).

(Visited 510 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *