GENERATION Z: FIVE CHARACTERISTICS

Akhir Januari 2018, Barna bekerja sama dengan Impact 360 Institute mempublikasikan hasil riset terbaru mereka tentang Generasi Z. Hasil lengkap risetnya dituangkan dalam buku Gen Z: The Culture, Beliefs and Motivations Shaping the Next Generation. Generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1999-2015 (usia mereka sekarang antara 2 – 18 tahun). Berikut ini adalah 5 karakteristik utama dari Gen Z beserta beberapa respon saya terhadap hasil riset ini.

Gen Z & Technology

Generasi ini dibentuk dengan Teknologi. Internet menjadi faktor pembentuk utama dari perkembangan Gen Z, karena internet melalui smart phones mempengaruhi hampir seluruh aspek hidup mereka, mulai dari pandangan hidup, kesehatan mental, jadwal harian, pola tidur bahkan sampai kepada relasi mereka dengan orang lain. Lebih dari setengah Gen Z menggunakan screen media 4 jam/hari bahkan lebih (1/4 dari mereka mengaku menggunakan 8 jam/hari). Smart Phones hampir selalu ada di dalam genggaman mereka dan di dalam pikiran mereka. Mereka tidur dengan phones dan membuka social media sebelum mereka tidur, lalu kemudian meraih phones mereka sesaat mereka terbangun di pagi hari (bahkan dibangunkan dengan alarm dari smart phones).

Mereka selalu terhubung dan ketakutan mereka adalah di saat mereka tidak mendapatkan koneksi internet. Ketakutan ini dikenal dengan istilah nomophobia. Mereka tidak mengenal dunia sebelum adanya internet, smart phones dan social media. Mereka adalah digital natives. Itulah sebabnya generasi ini dikenal dengan sebutan screenagers. Meskipun secara fisik generasi ini tampaknya lebih aman, namun secara psikologis, mereka sangat rapuh. Hal ini terjadi karena Gen Z bersosialisasi melalui phones mereka. Waktu mereka lebih banyak mereka gunakan di dalam kamar, sendiri dan seringkali membuat mereka stress. Mereka hanya meluangkan sedikit waktu untuk hang out dengan teman-teman mereka. Mereka meluangkan waktu mereka dengan mengkonsumsi video dari youtube, dan social media seperti Snapchat, Twitter, Instagram, Facebook dll. Bahkan lapangan basket atau olahraga telah digantikan dengan aplikasi games yang dimainkan secara virtual.

Berkaitan dengan hal ini, bukan pengasingan diri atau anti terhadap teknologi, tetapi penguasaan diri di dalam penggunaan teknologilah yang dibutuhkan. Menempatkan teknologi pada tempat dan waktu yang tepat. Misalnya seorang remaja menggunakan aplikasi smart phones untuk menolongnya menghitung jumlah waktu yang ia gunakan membuka berbagai aplikasi di smart phones dan aplikasi untuk removing distraction, yaitu aplikasi yang dapat menghalanginya untuk membuka aplikasi ketika sedang mengerjakan tugas tertentu, serta aplikasi reminder untuk menolongnya dalam pengelolaan waktu. Dari pada menyingkirkan teknologi sama sekali, remaja ini justru menggunakan teknologi untuk menguasai teknologi.

Penggunaan teknologi sebagai media untuk menjangkau dan menyampaikan kebenaran kepada Gen Z juga merupakan sarana efektif. Teknologi menolong Gen Z dapat mengakses berbagai pelajaran dari youtube dan mendapatkan banyak sumber ilmu dari berbagai website.

Namun, meskipun teknologi dapat digunakan untuk menguasai teknologi, fakta bahwa teknologi dapat membuat manusia aktif non-stop 24 jam tidak dapat dipungkuri. Kita perlu mengajarkan kepada Gen Z tentang konsep Sabbath (rest) dari teknologi.

Gen Z & Social Interaction

Generasi ini hidup dengan sosial-inclusive yang tinggi. Hal ini terjadi karena mereka lahir, bertumbuh dan berinteraksi di dalam dunia dengan keberagaman budaya, ras dan agama yang lebih terbuka. Jika generasi sebelumnya hidup dengan pengkotakan-pengkotakan ras dan agama, generasi ini lebih open-minded dan dapat menghargai perbedaan dan keberagaman. Namun, hal yang baik ini membuat Gen Z merangkul sebuah ekstrim yang disebut relativisme. Bagi Gen Z truth seems relative at best and, at worst, altogether unknowable… what’s true for someone else may not be “true for me.” Ekstrim ini di satu sisi terlihat sangat toleran, namun di sisi lain sebenarnya menunjukkan kebingungan terhadap natur dari kebenaran. Kebingungan itu akan mempengaruhi cara pandang Gen Z tentang moralitas dan etika di dalam kehidupannya.

Gen Z mengenal Virtual reality yang tampaknya merupakan real life bagi mereka. Dunia virtual ini menjadi ruang berinteraksi yang bebas dari orang tua yang suka melarang mereka untuk keluar rumah dan bergaul dengan teman-teman mereka. Itulah sebabnya mereka suka berinteraksi secara online atau virtual dengan orang yang belum mereka kenal secara langsung dalam kehidupan yang nyata. Tidaklah mengagetkan jika 33 % dari Gen Z mengalami online bullying. Postingan orang lain yang mereka lihat di social media dapat membuat mereka merasa memiliki kehidupan yang lebih buruk dan kehilangan semangat hidup. Donna Frietas menjelaskan bahwa hal ini dikarenakan: “People share the best version of themselves and we compare that to the worst version of ourselves.” Dampak yang lebih mengerikan dari hal ini adalah bahwa Gen Z merasa perlu berkompetisi karena mereka pikir mereka selalu ditonton di social media, tidak hanya oleh teman-teman mereka tetapi juga oleh followers lainnya. Fear of Missing Out (FOMO) menjadi ketakutan mereka ketika berinteraksi di dalam dunia virtual. Hal ini membuat mereka merasa perlu untuk menunjukkan versi terbaik dari diri mereka (seringkali membuat mereka menjadi palsu atau inauthentic) dan menantikan afirmasi melalui comments dan likes. Tidak ada lagi tempat yang aman bagi mereka, karena meskipun mereka di dalam kamar sendiri di malam hari, mereka tidak dapat berhenti scrolling through foto dan video orang lain. Hal ini membuat mereka tertekan untuk memposting sesuatu juga. Gaya hidup yang demikian akan membuat mereka kelelahan dan stress.

Jika sebagian besar dari Gen Z berkata bahwa happiness adalah gol utama hidup mereka, maka hal ini berbanding terbalik dengan gaya hidup mereka sebagai screenagers. Riset membuktikan bahwa aktivitas di depan screen dapat membuat seseorang less happy. Social media dapat menghadirkan loneliness dan dislocation, sehingga dapat menambah angka depresi. Namun, bagi Gen Z, “the appearance of happiness is more important than actually being happy,” seperti yang dikatakan Donna Freitas. Ia juga menambahkan bahwa banyak remaja terjebak dan tidak dapat keluar untuk terus menerus menggunakan social media di dalam berbagai dimensi hidup mereka, tanpa pernah tahu bagaimana memiliki hubungan yang sehat dengannya.

Data ini menunjukkan bahwa Gen Z diseret kepada sebuah bentuk relasi yang pseudo (semu). Mereka merasa bahwa mereka memiliki relasi yang riil ketika mereka terkoneksi dengan banyak orang di dunia virtual. Sosiolog menyebut zaman ini sebagai zaman Networked Individualism, yaitu sebuah zaman di mana manusia terlihat memiliki banyak relasi karena memiliki network yang luas, namun sebenarnya manusia itu masih terjebak di dalam individualism. Jika di masa lampau manusia hidup di pedesaan, sekarang kita hidup di perkotaan, Gen Z yang tidak mengenal dunia tanpa internet, hidup di dalam huge server yang kita sebut sebagai “the cloud.” Itulah sebabnya Andrew Zirschky dalam bukunya “Beyond the Screen” menyebut generasi ini sebagai the connected but alone generation. Gen Z perlu dilatih dan diajarkan untuk memiliki kemampuan berelasi secara face to face.

Gen Z & Happiness

Setengah dari Gen Z setuju bahwa kebahagiaan adalah gol utama mereka dalam hidup ini. Kebahagian hidup itu bagi mereka dapat dicapai melalui kesuksesan finansial. Life’s goals dari Gen Z adalah menyelesaikan pendidikan dan memulai karir (66 %) sehingga dapat memiliki kemandirian finansial sebelum usia 30 tahun (65 %). Jika peristiwa besar bagi Generasi Millennials (Gen Y) adalah 9/11, peristiwa besar bagi Gen Z adalah resisi ekonomi 2008. Ketidakpastiaan ekonomi menjadi ketakutan generasi ini. Itulah sebabnya mencapai kesuksesan finansial melalui kesuksesan di dalam pekerjaan (professional) adalah sebuah kebahagiaan untuk generasi ini. Mereka telah melihat bagaimana orang tua mereka (Gen X) bergumul berat di dalam perkerjaan demi kebutuhan finansial. Hal ini membangkitkan rasa tanggung jawab dan jiwa kewirausahaan karena mereka tidak ingin seperti orang tua mereka yang susah. Mereka ingin memegang kontrol atas masa depan mereka dan memperolah kebebasan secara finansial. Mereka ingin mendapatkan jaminan keamanan secara finansial di tengah-tengah kondisi ekonomi dunia yang dapat berubah dengan cepat.

Namun, hal ini bertolak belakang dengan realita bahwa kebanyakan dari anak usia remaja tidak memahami vokasi atau panggilan hidup mereka. Hal ini ditunjukkan dengan kebingungan mereka di dalam memilih kuliah. Diperlukan sebuah jembatan untuk menghubungkan antara harapan dan realita yang dialami oleh Gen Z. Salah satu jembatan yang mungkin dapat dibangun adalah sebuah pemuridan yang berpusat pada panggilan hidup atau dapat disebut sebagai vocational discipleship.

Gen Z & Family

Sebagian besar generasi ini memiliki hubungan keluarga yang “complicated.” Gen Z cenderung mengagumi orang tua mereka dan menjadikan orang tua sebagai role model. Namun, sebagain besar tidak merasakan bahwa relasi di dalam keluarga adalah relasi yang utama yang membentuk identitas mereka. Generasi-generasi sebelumnya menjadikan keluarga sebagai prioritas, namun tidak demikian bagi Gen Z.

Gen Z dibesarkan dengan pola asuh yang disebut sebagai double-minded parenting, di mana di satu sisi orang tua terlalu melindungi (overprotective), tetapi di sisi lain terlalu lepas tangan (underprotective), khususnya yang berhubungan dengan dunia digital. Orang tua melakukan pola asuh overprotective karena alasan keamaan. Namun, journalist Hannah Rosin mengatakan bahwa terobsesi dengan keamanan akan menghalangi anak-anak menjadi pribadi yang mandiri, berani mengambil resiko dan punya daya juang. Hal ini sebaliknya sebenarnya tidaklah membuat anak-anak menjadi lebih aman. Pola asuh yang seperti ini justru membuat anak-anak menjadi mudah gelisah, stress bahkan cenderung depresi. Di sisi lain, munculnya orang tua yang melakukan pola asuh underprotective adalah karena mereka (Gen X) melihat bagaimana generasi sebelum mereka (Boomer Parents) membesarkan generasi Millennials dengan pola asuh overprotective. Hal ini membuat Gen X belajar bahwa mereka tidak boleh terlalu mengekang tetapi juga tidak terlalu membebaskan. Namun, dalam area yang berhubungan dengan internet dan social media, tampaknya mereka cenderung memberikan kebebasan. Bahkan tidak jarang orang tua justru menjadikan dunia digital sebagai dunia yang dapat menenangkan anaknya. Akhirnya, anak cenderung dibentuk dan diasuh oleh dunia internet dari pada oleh orang tuanya sendiri. Mereka pertama kali mendapatkan pendidikan seks dari google atau youtube, bukan dari orang tua mereka. Gen Z cenderung lebih cepat dewasa dan masa kanak-kanak mereka lebih cepat berlalu karena kemandirian dan kebebasan yang berlebihan yang diberikan oleh orang tua mereka.

Gen Z & Identity

Identitas Gen Z dibentuk oleh beberapa hal: life’s goal dalam menyelesaikan pendidikan dan kesuksesan karir untuk mencapai kebebasan finansial (No.1 – 43 %); hobby (No.2 – 42 %); pemahaman tentang gender (No.3 – 37 %); Teman (No.4 – 35 %); Keluarga (No.5 – 34 %) dan agama (No.6 – 34 %).

Bertolak belakang dengan generasi sebelumnya yang mengatakan bahwa keluarga dan agama adalah faktor utama pembentuk identitas mereka, bagi Gen Z keluarga (No.5) dan agama (No.6) bukanlah faktor utama yang membentuk identitas mereka. Keluarga menjadi hal yang secondary atau bahkan tertiary. Teman justru memiliki tempat yang utama bagi perkembangan identitas Gen Z (No.4). Agama juga bukan merupakan prioritas utama Gen Z. Hanya 16 % dari Gen Z yang mengatakan bahwa dalam hidup mereka mereka ingin menjadi dewasa secara rohani. Agama dan iman tidak menjadi prioritas mereka. Tidaklah mengejutkan jika pada akhirnya Gen Z berpendapat bahwa berbohong bukanlah tindakan yang salah secara moral (34 %).

Akan tetapi, ketika riset membedakan antara Gen Z yang terlibat aktif dalam kekristenan dengan Gen Z lainnya, maka datanya berubah. Bagi mereka, keluarga (No.1 – 89 %) dan agama (No.2 – 60 %) menjadi pembentuk utama dari identitas mereka. Hal ini tentu menjadi harapan bahwa keluarga Kristen dan gereja masih memberikan dampak yang positif bagi perkembangan identitas Gen Z.

Identitas Gen Z juga dibentuk oleh pemahaman tentang gender (No.3). Gen Z percaya bahwa jenis kelamin (gender) tidak ditentukan oleh kelahiran melainkan oleh apa yang dirasakan seseorang di dalam dirinya (33 %). Interaksi dengan isu LGBT yang lebih terbuka dan bahkan mengenal orang LGBT secara langsung adalah latar belakang dari pandangan mereka tentang gender ini. Tujuh dari sepuluh Gen Z percaya bahwa adalah hal yang dapat diterima untuk dilahirkan dengan jenis kelamin tertentu dan merasa memiliki kecenderuang orientasi seks yang lain.

Gen Z juga hidup di dalam sebuah lingkungan yang beragam. Banyak remaja kota merasakan bahwa mereka tidak dimiliki oleh hanya satu latar belakang yang membentuk identitas mereka. Mereka merasa tidak memiliki identitas atau sebaliknya memiliki identitas yang berganda. Keberagaman membuat mereka kehilangan identitas atau kebingungan identitas. Hal ini membuat kehidupan remaja menjadi sangat kompleks.

Ketika menyangkut tanda dari kedewasaan, Gen Z sangat berbeda dari generasi sebelumnya, generasi Millennials. Bagi Gen Z, kemandirian secara finansial adalah tanda utama kedewasaan (42 %) sedangkan bagi Millennials kedewasaan ditentukan oleh kedewasaan secara emosi (49 %). Tampaknya hal berkaitan erat dengan resisi ekonomi 2018. Millennials mengalami kesulitan secara ekonomi sehingga membutuhkan kestabilan emosi. Gen Z meresponi resisi 2018 dengan berjuang untuk keluar dari masalah ekonomi. Data menunjukkan bahwa 6 dari 10 alasan mengapa Gen Z menganggap orang tua mereka sebagai role model adalah karena orang tua mereka sukses dalam karir dan keuangan.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan di dalam pembentukan identitas dari Gen Z. Pertama, pentingnya kehadiran orang tua untuk mendampingi Gen Z di dalam pembentukan identitasnya. Namun, realita orang tua yang melakukan double-minded parenting dan tingkat perceraian yang semakin tinggi akan mempersulit hal ini. Gen Z membutuhkan friendship parenting, yaitu orang tua yang dapat menjadi teman bagi mereka. Teman yang dapat mendengarkan tanpa mudah menghakimi dan memberikan evaluasi, teman yang memberikan dukungan terhadap hal-hal apa yang mereka sukai, teman yang mencoba untuk memahami dunia digital sehingga dapat berkomunikasi dengan mereka (riset menunjukkan bahwa hanya 2 dari 5 orang tua Kristen yang berbicara kepada anak remaja mereka tentang penggunaan media sosial yang sehat). Teman yang berani mengajukan pertanyaan yang tepat tentang isu-isu penting dan kontroversi, misalnya berkaitan dengan relativisme kebenaran dan moralitas, isu LGBT, isu tentang agama dan spiritualitas, serta cara pandang tentang finansial. Teman yang juga menghargai apa yang menjadi pendapat mereka sambil memberikan masukan-masukan berarti. Teman yang juga dapat memberikan tantangan-tantangan positif.

 

NEXT POST: GENERATION Z: FAITH & CHURCH…

(Visited 133 times, 1 visits today)

2 Comments

  1. Samuel March 26, 2018 at 1:18 am

    Man tap Ko

    Reply

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *