Resolution, But Habit: Rethinking Our New Year’s Resolution

Introduksi

Masa di mana kita mengakhiri tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru adalah masa di mana kita mengevaluasi diri dan sekaligus membuat komitmen untuk menjadi lebih baik di tahun yang baru. Komitmen yang demikian sering kita sebut sebagai New Year’s Resolution. Resolusi tahun baru biasanya berkaitan dengan kesehatan, diet dan menurunkan berat badan, menjadi orang yang lebih baik, lebih suka memberi atau lebih dapat meluangkan waktu untuk keluarga. Dalam urusan kerohanian, tidak jarang resolusi tahun baru berisi komitmen untuk berhenti melakukan dosa tertentu, lebih rajin berdoa, membaca Alkitab, melayani di gereja atau bahkan ingin lebih mengontrol kebiasaan mudah marah. Resolusi dibuat agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Tradisi membuat resolusi hampir ada di berbagai negara di seluruh dunia. Dua bertiga dari masyarakat AS contohnya selalu membuat resolusi ketika memasuki tahun baru. Namun, hasil riset dari Barna menunjukkan bahwa hanya 23 % dari mereka yang mengalami perubahan jangka panjang sebagai efek dari resolusi yang mereka buat di awal tahun. 29 % mengatakan hanya mengalami sedikit perubahan. Sisanya sekitar 49 % mengatakan bahwa mereka gagal dan tidak mengalami perubahan apa-apa.[1]

Resolusi tahun baru ternyata masih dapat menjadi alat bagi sebagian orang untuk berkomitmen dan berubah. Tetapi untuk kebanyakan orang, resolusi hanya menjadi ilusi dan menambah daftar kegagalan di sepanjang tahun.

Apakah membuat resolusi tahun baru adalah cara yang tepat bagi orang percaya untuk membuat komitmen tertentu dan mengalami perubahan dalam hidup mereka? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami terlebih dahulu asal mula tradisi resolusi dan apakah yang Alkitab, khususnya Perjanjian Baru katakan tentang hal ini.

Asal Mula Tradisi New Year’s Resolution

Seperti perayaan-perayaan Kekristenan lainnya, Perayaan Tahun Baru di dunia Barat sudah dimulai jauh sebelum kekristenan muncul. Tradisi Festival perayaan Tahun Baru sudah dimulai sejak tahun 153 SM di Romawi. Festival itu dilakukan untuk merayakan dewa Janus, dewa dari Permulaan atau dewa penjaga pintu masuk dan waktu dalam agama dan mitologi Romawi. Tradisi ini semakin diperkuat, karena pada tahun 46 SM, Kaisar Romawi, Julius Caesar menetapkan tanggal 1 Januari sebagai awal dari tahun yang baru. Orang Romawi memberi nama bulan pertama dalam setahun berdasarkan nama dewa Janus. Dewa Janus selalu digambarkan memiliki dua wajah, yang satu menghadap ke depan dan yang lain menghadap ke belakang. Pada waktu yang sama, ia dapat melihat ke belakang dan ke depan. Pada tanggal 31 Desember, orang Romawi membayangkan Janus melihat ke belakang kepada tahun lama yang sudah dilewati dan melihat ke depan kepada tahun yang baru.

Tradisi membuat resolusi tahun baru merupakan bagian dari perayaan festival ini. Orang Romawi biasanya membuat resolusi yang berkaitan dengan moral, yaitu untuk melakukan kebaikan bagi orang lain. Ketika Romawi menjadikan Kekristenan sebagai agama yang sah, bahkan sebagai satu-satunya agama yang diakui di dalam Kekaisaran Romawi, orang Kristen tetap menjaga tradisi perayaan tahun baru dan tradisi membuat resolusi tahun baru ini. Namun, mereka menukar penekanan resolusi pada aspek moral kepada praktik doa dan berpuasa dengan tujuan agar mereka memiliki sebuah kehidupan yang baru di dalam Kristus di tahun yang baru. Gereja mengambil tradisi sekuler ini dan membaptis ritual resolusi ini ke dalam Kekristenan, sehingga terlihat menjadi begitu rohani.

Meskipun, tradisi ini telah dibaptis ke dalam Kekristenan dan unsur penyembahan berhalanya sudah digantikan dengan penyembahan kepada Kristus, tetapi pemahaman tentang tradisi sekuler dan penyembahan dewa Janus di balik Perayaan tahun baru ini, telah membuat sebagian orang Kristen ragu-ragu untuk meneruskan tradisi ini. Kaum Puritan misalnya tidak lagi ingin merayakan perayaan tahun baru lagi, bahkan mereka enggan menyebut bulan pertama sebagai bulan Januari, karena merujuk kepada dewa Janus. Mereka menyebut bulan itu sebagai “First Month.” Mereka menganjurkan orang muda untuk tidak mengadakan pesta dan perayaan tahun baru di tanggal 31 Desember malam, melainkan mengambil waktu untuk bermeditasi tentang hidup mereka di tahun yang lama dan apa yang mereka ingin lakukan di tahun yang baru. Mereka membuat janji untuk tidak melakukan dosa yang telah mereka lakukan, menggunakan talenta mereka dengan lebih baik dan mengasihi orang lain dengan lebih baik di tahun yang baru. Mereka menolak festival dan pesta tahun baru tetapi tetap mengadopsi tradisi lama untuk membuat resolusi. Tokoh Puritan dan Kebangunan Rohani Amerika yang sangat terkenal dalam membuat resolusi adalah Jonathan Edward. Bedanya ia tidak membuat resolusi itu selama satu malam, atau satu hari, tetapi selama 2 tahun setelah ia tamat dari Yale University dan memulai pelayanannya.

Perjalanan sejarah dari resolusi tahun baru sampai kepada masa Jonathan Edward ini menjadi sebuah latar belakang mengapa membuat resolusi di akhir atau awal tahun menjadi sesuatu yang dianggap orang Kristen sebagai sesuatu yang rohani dan penting di dalam perjalanan iman orang Kristen. Namun, apakah membuat resolusi tahun baru berakar pada pengajaran Alkitab, khususnya Perjanjian Baru?

Tradisi New Year’s Resolution dalam Terang Perjanjian Baru

Apakah salah jika seorang percaya membuat sebuah resolusi atau komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

Kitab Injil mencatat bahwa dalam khotbah di bukit, Yesus berkata “karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Surga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Meskipun kata “sempurna” yang dimaksud adalah mencapai tujuan (Yunani: telos), artinya setiap orang percaya harus hidup sesuai dengan rencana dan tujuan Allah di dalam hidupnya. Namun, pengertian ini juga mengandung arti bahwa orang percaya harus memiliki tekad dan komitmen di dalam menjalani kehidupannya. Yesus juga menantang murid-murid-Nya untuk mengambil keputusan meninggalkan kehidupan lama mereka dan mengikut Dia.

Hidup dengan tekad dan komitmen juga menjadi catatan penting Paulus di dalam surat-suratnya. Ia menegaskan kepada jemaat agar mereka yang sudah diselamatkan harus hidup sebagai manusia baru, yaitu hidup oleh Roh, dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dulu mereka lakukan waktu mereka belum mengenal Allah (Gal. 6:16-26; Ef. 4:17-32; Kol. 3:5-17).

Dengan demikian, Perjanjian Baru sebenarnya tidak melarang seorang percaya untuk membuat komitmen atau resolusi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik demi mencapai rencana dan tujuan Allah di dalam hidupnya.

Akan tetapi, resolusi tahun baru menjadi sesuatu yang salah jika…

Salah jika kita berpikir bahwa kita dapat mengubah diri kita dengan “kekuatan” kita sendiri.

James K. A. Smith, seorang filsuf Kristen mengatakan bahwa “resolution is a liturgy of secular festival of New Year. The heart of resolution is Individualism and Heroism. I am the master of my fate. I resolve from now on I am not gonna do that anymore.” Kita berpikir bahwa kita menjadi lebih baik karena kita menjadi tuan atas diri kita sendiri, atas pilihan-pilihan, atas komitmen dan pencapaian atas komitmen kita tersebut.

Kondisi yang demikian sebenarnya juga disoroti oleh Paulus di dalam kehidupan Jemaat di Galatia. Paulus menegur jemaat di Galatia demikian “How foolish can you be? After starting your christian lives in the spririt, Why are you now trying to become perfect by your own human effort? (Gal. 3:1-3). Paulus menyebut jemaat di Galatia sebagai orang-orang yang Bodoh, karena mereka diselamatkan oleh anugerah tetapi justru mencoba menjalani hidupnya dengan kekuatan manusia. Mereka berpikir bahwa kesempurnaan keselamatan itu terletak pada usaha mereka untuk taat.

Dalam doktrin kristen ada yang disebut dengan sanctification atau pengudusan. Secara singkat, “sanctification is becoming like Jesus, becoming holy.” Secara objektif, pengudusan orang percaya itu dikerjakan oleh Yesus di atas kayu salib. Dia mendeklarasikan bahwa kita kudus melalui kematian-Nya di atas salib. Hidup kita disucikan oleh darah Yesus. Namun, setelah kita mengalami pengudusan secara objektif, sebagai orang yang sudah dikuduskan, kita perlu mengerjakan pengudusan secara subyektif, di mana kita berjuang dalam hidup ini untuk hidup kudus dan menjadi serupa dengan Kristus. Pengudusan yang subyektif ini sekilas mirip sekali dengan resolusi tahun baru. Tetapi sesungguhnya kedua hal ini berbeda. Dietrich Bonhoffer menyebut pengudusan yang subyektif ini dengan istilah progressive sanctification yang dikerjakan oleh orang percaya melalui anugerah partisipatif, yaitu anugerah yang Allah berikan bagi kita untuk menjalani sebuah kehidupan yang kudus dari hari ke hari setelah kita diselamatkan. Anugerah ini diberikan melalui kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, karena ketika Roh Kudus diberikan hidup orang percaya seharusnya dikuatkan bukan diperlemah. Kita diberdayakan, bukan dibuat tidak berdaya.

Paulus juga dalam  Filipi 2:13 mengatakan: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Kata “kamu” konteks ayat ini tidak ditulis tunggal, melainkan jamak. Artinya kita tidak dapat berjuang dan bertumbuh sendiri. Kita butuh orang lain atau komunitas, atau kita butuh gereja untuk mengerjakan pengudusan secara subyektif ini.

Kita tidak dapat mencapai kekudusan hidup dengan kekuatan kita sendiri, kita membutuhkan kekuatan Allah melalui kehadiran Roh Kudus dan komunitas rohani di dalam hidup kita.

Dalam penelitian yang lain, Donald Miller mengatakan bahwa “hanya 8 % orang yang dapat mencapai resolusi yang ia buat di awal tahun. Sebagaian besar justru gagal di awal bulan Januari.”[2] Mengapa sebagian besar orang gagal mencapai resolusi tahun barunya?

Jawabannya sederhana: kita tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik tanpa kehadiran Tuhan dan komunitas orang percaya.

Salah jika kita berpikir bahwa kita dapat memulai sesuatu yang baru secara magical

Ketika kita akan mengakhiri tahun, kita mengevaluasi hidup kita, membuat sebuah resolusi, mendoakan resolusi itu, dan berharap bahwa Tuhan akan menolong kita untuk menjadi seorang seperti yang kita resolusikan. Tetapi di awal tahun kita tidak pernah menyentuh resolusi itu, berharap resolusi itu terwujud secara magical.

Resolusi yang demikian salah, karena Allah tidak menantikan kita untuk membuat resolusi  yang dapat terjadi secara instan. Allah mengundang kita ke dalam sebuah dsiplin rohani yang akan membentuk kita menjadi pribadi yang Dia inginkan.

Ada sebuah kata-kata bijak  yang terkenal “You are what you think.”  Apakah kita setuju dengan kalimat ini? Jika kalimat ini diaplikasikan pada keputusan mengubah tingkah laku, maka hal ini dapat berarti bahwa jika kita ingin mengubah tingkah laku kita maka hal itu harus dimulai dari pikiran kita. Segala sesuatu berpusat dari apa yang kita pikirkan. Kita menerima informasi atau pengetahuan tentang sesuatu ke dalam pikiran kita, kita membuat pilihan dalam pikiran kita, lalu kita berubah.

Pikiran kita mengetahui sesuatu, barulah kita dapat berubah seperti apa yang kita ketahui. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Problem orang yang tidak dapat berubah adalah karena mereka tidak tahu tentang sesuatu. Namun, bukankah banyak dari kita sekarang tahu apa yang baik dan yang benar, tetapi tidak berubah dalam cara kita bertindak? Bukankah kita tahu tentang sesuatu yang baik, tetapi gagal untuk melakukannya?

Suatu hari saya membaca sebuah artikel yang dikirim seorang teman tentang air dingin, bahwa tidak baik meminum air dingin setelah makan, apalagi setelah makan makanan yang berminyak. Saya suka dan setuju dengan artikel itu karena didukung dengan analisa bahwa lemak  tidak dapat larut jika kita meminum air dingin. Tetapi beberapa hari kemudian, pada waktu makan siang, saya memesan makanan dan air dingin. Saya tahu bahwa air dingin tidak baik buat tubuh saya, tetapi di hari yang panas itu godaan meminum air dingin tidak terhindarkan. Kita tahu bahwa seharusnya kita mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat. Tetapi kita tidak mampu menolak makanan dan minuman enak yang seharusnya tidak boleh kita konsumsi.

Ada Gap (jurang pemisah) antara what we know dan what we do. Antara knowledge dan action. Pengetahuan saja tidak cukup. Kita perlu jembatan antara knowledge dan action. Paulus mengajarkan bahwa kita butuh disiplin untuk mempraktikkan apa yang kita ketahui. Tim Elmore, seorang ahli sosiologi, mengatakan bahwa jembatan itu adalah disiplin yang dilakukan berulang kali sampai pada akhirnya membentuk habit (kebiasaan)

Dalam Kolose 3:12-17, Paulus menggunakan metafora berpakaian (Clothing Metaphor). Ia mengatakan “Clothe yourselves with…” sebanyak 2 kali (ay.12, 14). Berpakaian bukan sesuatu yang  kita dapat lakukan sendiri saat kita baru dilahirkan. Kita dibantu orang tua kita di dalam berpakaian. Kita diajari oleh orang tua kita berpakaian. Sampai suatu hari, kita secara perlahan belajar sendiri cara berpakaian. Awalnya pasti terjadi kesalahan dan kesulitan. Tetapi praktik berpakaian yang berulang kali kita lakukan membuat kita mahir melakukannya. Setelah kita dewasa, kita dapat berpakaian hanya dalam hitungan detik! Namun, di awal kita membutuhkan orang lain, dan kita membutuhkan waktu, proses dan latihan sampai pada akhirnya berpakaian sendiri terkesan menjadi sesuatu yang natural dan otomatis dapat kita lakukan tanpa berpikir.

Dengan kata lain, Paulus ingin berkata bahwa kita mulai sebagai seorang pemula, terus berlatih dan berlatih di dalam sebuah proses sehingga pada akhirnya hal itu menjadi sesuatu yang secara otomatis dapat kita lakukan, bahkan tanpa berpikir. Inilah yang kita sering sebut sebagai habit (kebiasaan). Perubahan ini jelas tidak terjadi dalam satu malam secara magical.

Contohnya, seorang dapat menjadi seorang yang mudah mengampuni orang lain, bukanlah seorang yang tahu tentang apa itu pengampunan dan bagaimana harusnya mengampuni. Kita mendengar khotbah pendeta yang bagus tentang pengampunan, lalu besok pagi kita bangun pagi dan berkata bahwa khotbah pendeta tersebut sangat bagus dan dari sekarang saya akan menjadi seorang yang dapat mengampuni secara otomatis. Namun, siang harinya, kita mendapati diri kita disakiti oleh orang lain. Kita sudah tahu bahwa kita harus mengampuni, tetapi nyatanya kita tidak dapat memberikan pengampunan, karena terlalu sakit. Seorang yang dapat mengampuni orang lain adalah seorang yang melatih dirinya untuk terus belajar mengampuni, meskipun kadang ada kegagalan. Ia harus memulai dengan tindakan kecil di dalam mengampuni, yaitu dengan mendoakan orang yang menyakitinya terus menerus, sampai akhirnya ada kelegaan di dalam hatinya. Ia juga harus belajar untuk memberikan senyuman dan menyapa orang yang pernah menyakitinya. Disiplin yang membentuk habit ini akan menolongnya menjadi seorang yang mudah mengampuni orang lain.

“We are the creature of habit

 

 

Notes:

[1] Hasil riset lengkap dapat diakses: https://www.barna.com/research/individualism-shines-through-americans-2011-new-years-resolutions/

[2]Artikel lengkap dapat diakses: http://storylineblog.com/2012/12/22/4-reasons-new-years-resolutions-dont-work/

(Visited 30 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *