I am Bored with Sunday Worship

Topik tentang “menjadi otentik” adalah topik panas. Menjadi tidak otentik atau fake adalah sesuatu yang dibenci oleh anak muda jaman now. Seorang siswa berkata: “the worse thing than being uncool is being fake.” Otentik adalah sebuah kata penting. Namun, apakah yang dimaksud dengan manjadi otentik?

Ada sebuah cerita untuk menjelaskan hal ini:

Seorang Professor Alkitab terkenal bercerita tentang pertemuannya dengan seorang anak muda yang bertubuh atletis. Anak muda ini menceritakan kepadanya tentang cintanya yang begitu dalam kepada Yesus. Berdasarkan ketertarikannya begitu dalam kepada Yesus, professor yakin bahwa anak muda ini memiliki komitmen yang kuat juga. Mereka berbicara banyak tentang iman dan Alkitab. Ketika topik tentang Ibadah Minggu muncul dalam pembicaraan mereka, anak muda itu menjelaskan bahwa ia jarang sekali datang, karena Ibadah Minggu terasa sangat membosankan baginya.

Professor itu langsung memberikan responnya: “Saya pikir kamu mencintai Yesus?” Anak muda itu menjawab dengan tulus: “Iya benar, saya sangat mencintai Yesus.” Professor itu kembali bertanya: “Jika demikian, apakah kamu bersedia mati untuk Yesus?” Anak muda itu kembali menjawab: “Iya… Saya pikir saya bersedia… bersedia mati untuk Yesus.” Professor kali ini memberikan respon yang tajam: “Mari kita ngomong blak-blakan sekarang. Bagaimana mungkin kamu bersedia mati untuk Yesus, tetapi tidak bersedia menjadi bosan demi Yesus?”

Sekilas pertanyaan yang tajam dari professor ini sangat masuk akal. Ia menunjukkan kepada anak muda tadi tentang pentingnya Ibadah bersama dalam iman Kristen, dan ia menemukan  ketidakkonsistenan anak muda itu – mau mati bagi Yesus, tapi tidak bersedia menjadi bosan.

Namun, ada sesuatu yang tidak dipahami oleh professor ini. Ia tidak memahami tentang konteks hidup anak muda masa kini di zaman yang disebut oleh Charles Taylor [1] sebagai the age of authenticity (zaman otentisitas). Di zaman otentisitas, membosankan adalah inauthentic, karena membohongi diri sendiri. Anak muda tadi mungkin ingin berkata bahwa Ibadah Minggu tidak menghibur, namun lebih dalam dari pada itu, mungkin ia ingin berkata bahwa Ibadah Minggu tidak jujur, karena kehilangan koneksi dengan keinginan subjektifitasnya yang dalam. Dengan kata lain, Ibadah Minggu tidak memberikan pengalaman apa-apa bagi dirinya.

Di zaman otentisitas, gereja mendapatkan kritik tajam karena menekan dan tidak memberi ruang bagi pengalaman subyektif manusia serta menjauhkan kita dari kehidupan yang otentik. Padahal di zaman ini, menjadi otentik dianggap lebih penting daripada menjadi kudus, menjadi baik atau benar. Bahkan adalah lebih baik untuk menjadi orang jahat tetapi otentik dari pada menjadi orang baik tetapi tidak otentik. Hal ini tidak berarti bahwa menjadi kudus, baik dan benar tidak penting, atau menjadi jahat diperbolehkan. Namun, menjadi orang jahat bukanlah hal yang paling buruk lagi, karena menjadi orang tidak otentik adalah lebih buruk dari pada menjadi orang jahat.

The church was bad not because it was corrupt or evil (of course some churches were) but because it was inauthentic, boring, and irrelevant.

Membosankan tidak semata-mata berarti tidak menghibur atau tidak menyenangkan. Membosankan dapat berarti tidak mendapatkan pengalaman subyektif yang bermakna. Membosankan artinya tidak menyentuh realitas hidup yang riil. Membosankan artinya menekan dan merampas keotentikan pengalaman subyektif itu. Anak muda tadi akan berkata: “I didn’t like it. I didn’t experience anything. Why do I need to come there?”

Charles Taylor menegaskan hal ini dalam bukunya A Secular Age (2007):

The religious life or practice that I become part of must not only be my choice, but it must speak to me, it must make sense in terms of my spiritual development as I understand this… Within this framework of belief, I choose the church in which I feel most comfortable.

Dengan kata lain, if something is boring, it is worth abandoning.

Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu penyebab utama mengapa gereja banyak ditinggalkan oleh kaum muda. Gereja sibuk dengan kehilangan anggota gereja, dan mengusulkan program-program baru, tanpa pernah tahu bahwa “kehilangan anggota gereja” hanyalah symptom dari penyakit yang lebih serius: gereja tidak dapat menjawab kebutuhan zaman ini akan otentisitas. Ibadah Minggu gereja tidak menyediakan ruang bagi pengalaman subyektif orang muda. Gereja sibuk memagari tradisi yang diwarisi dari abad sebelumnya, tanpa pernah mencoba untuk membuka diri untuk mendengarkan jeritan orang muda di abad ini, the age of authenticity. [2]

 

 

Notes:

[1] Charles Taylor adalah filsuf asal Kanada di abad ke-21. Buku yang ia tulis “A Secular Age” (2007), disebut sebagai salah satu buku yang paling penting di Abad Ke-21.

[2] Andrew Root, Faith Formation in a Secular Age Volume 1 (Ministry in a Secular Age): Responding to the Church’s Obsession with Youthfulness (Grand Rapids: Baker Publishing Group, 2017). Ilustrasi dan berbagai insight dari artikel ini diambil dari buku ini. Dalam buku ini Andrew Root menawarkan sebuah formasi iman yang memperhatikan eleman-elemen penting di zaman otentisitas. Insights yang berharga dari buku ini akan diupdate dalam artikel berikutnya dalam blog ini.

(Visited 60 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *