WONDER: Life is Connected (Movie Review)

Life is connected.
There are no isolated relationships.
There are no isolated events.
There are no isolated decisions.

Kalimat ini tampaknya menjadi sebuah sisi lain yang menawan dari Film Wonder (rilis 17 November 2017). Film yang diangkat dari Best Seller Novel Wonder (2012) yang ditulis oleh R. J. Palacio. Memang fokus dari film ini adalah kisah seorang anak bernama August Pullman (Jacob Tremblay) – a boy who’s desperate to blend in, but is destined to stand out – yang menderita craniofacial disease, yaitu kelainan pada wajah dan seluruh organ yang ada di kepala sejak lahir. Kelainan ini mengharuskannya menjalani 27 kali operasi plastik. Ia bertumbuh sebagai seorang anak yang memiliki muka yang aneh. Hal ini memaksa orang tuanya Nate dan Isabel (diperankan oleh Owen Wilson dan Julia Roberts) takut untuk memasukan Auggie ke sekolah umum. Ketakutan akan bullying menjadi faktor utama dari ketakutan ini. Di sini kita melihat betapa bullying dapat menjadi ketakutan sebuah keluarga dan tentunya dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Namun, ketakutan itu harus dihadapi demi sebuah pertumbuhan.

Terlepas dari kesuksesan Auggie melewati tantangan demi tantangan, pergumulan demi pergumulan, sampai pada akhirnya ia dapat menginspirasi orang-orang di sekolahnya, sehingga ia layak mendapatkan penghargaan Henry Ward Beecher dari sekolahnya. Namun, film ini mempresentasikan sebuah snapshot dari sebuah kehidupan yang saling terhubung. Isu tentang keterhubungan ini justru merupakan sisi lain yang menarik dari film ini – jika bukan isu utama yang sebenarnya ingin diangkat di dalam film ini.

Kehidupan Auggie dengan wajah aneh tidak hanya tentang dirinya, tetapi terhubung dengan kehidupan Isabel, ibunya – kehidupan Via, kakaknya – kehidupan Jack Will, teman baiknya yang pernah mengecewakannya – kehidupan Miranda, teman baik dari Via, yang memiliki keluarga yang broken home, namun memiliki tempat di dalam keluarga Nate dan Isabel – dan bahkan kehidupan Julian, teman sekolah Auggie yang terus menerus mem-bully-nya.

Our lives are never been an isolated life.
They are maybe like a spiderweb.

Fokus pada operasi yang berulang kali harus dilakukan kepada Auggie dan homeschooling, telah membuat thesis dari Isabel tertunda bertahun-tahun lamanya. Fokus ini juga membuatnya kehilangan waktu untuk memperhatikan anak pertamanya, Via. Perasaan dinomer duakan jelas menjadi pergumulan tersendiri yang dirasakan Via. Ia bahkan mengatakan sebuah kalimat sindiran: “my house is like the earth. It revolves around the son, not the daughter.” Menjadi normal membuatnya tidak mendapatkan perhatian yang normal dari kedua orang tuanya. Ia hidup dalam loneliness. Sebaliknya, menjadi tidak normal justru membuat Auggie di satu sisi dapat menjadi loneliness, namun di sisi lain, memandang bahwa masalah yang ia hadapi adalah masalah yang lebih sulit dari pada masalah yang dihadapi oleh Via, kakaknya. Ia ingin diistimewakan karena keanehan yang ia derita. Dengan kata lain, menjadi normal akan membuat kita tidak dapat diistimewakan, dan menjadi tidak normal membuat kita merasa harus diistimewakan. Namun, loneliness tetap dapat dialami keduanya.

Di dalam kesendiriannya, Via hanya memiliki seorang sahabat baik, Miranda. Namun, sahabat yang diandalkannya ini justru menjauh darinya karena katakutan untuk jujur menceritakan realita hidupnya yang berantakan berkaitan dengan liburna dan keluarganya yang broken. Bahkan Miranda harus mengarang cerita bohong untuk menarik perhatian orang lain dan menjadi populer di dalam pergaulannya. Ketakutan untuk jujur membuatnya menjauhkan diri dari Via. Ketakutan itu membuatnya membohongi hatinya bahwa ia juga membutuhkan Via dan keluarganya, yang dapat memberikan kehangatan hubungan yang tidak ia miliki di dalam keluarganya sendiri. Dalam kondisi ini, ia terlihat populer di antara teman-temannya dengan tampilan fashion barunya yang gaul, namun di dalam hatinya ia merasakan loneliness.

Lalu, keputusan orang tua Auggie untuk masuk sekolah umum menghasilkan sebuah keterhubungan yang lain, yaitu  keterhubungan yang melibatkan Jack Will dan Julian, dua siswa dari sekolah tersebut, teman sekelas dari Auggie. Keputusan itu pada akhirnya membentuk orang lain yang terhubung karena keputusan itu. Tidak ada keputusan yang sungguh-sungguh terisolir dari keterhubungan dengan orang lain.

Presentasi keterhubungan ini, menunjukkan dua hal yang menarik. Pertama, ketika seorang yang extraordinary (tidak normal) berusaha mendapatkan tatapan yang ordinary dari orang lain di sekitarnya, maka sesungguhnya seorang yang ordinary (normal) menginginkan sebuah tatapan yang extraordinary dari orang di sekitarnya. Life is ironic. Kedua, keterbatasan waktu dan tenaga membuat kita tidak dapat fokus pada banyak hal. Isabel agak gagal menunjukkan perhatiannya kepada anaknya yang pertama, Via, karena Auggie memerlukan perhatian yang lebih. Jelas seharusnya ia memberikan perhatian yang seimbang. Namun, apakah ia dapat mencapai sebuah keseimbangan? Nampaknya film ini menolak untuk menggambarkan sebuah kehidupan yang ideal, tetapi sebaliknya menunjukkan bahwa realitas kehidupan yang kita alami adalah sebuah kehidupan yang berantakan (messy life).

Our lives are never been an isolated life.
They are maybe like a spiderweb.
A messy spiderweb.
So why do we need to pretend that we live like in a fairy tale?

Syukur kepada Tuhan, karena Dia tidak anti dengan kehidupan dan hubungan kita yang berantakan. Mungkin kita perlu mengaminkan apa yang pernah ditulis oleh Eugene Peterson: “when we sin and mess up our lives, we find that God doesn’t go off and leave us — he enters into our trouble and saves us.”

(Visited 105 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *