Start Living It

Ini pertama kalinya saya menuliskan sesuatu (di The Coffee Bean Karawaci… hehehe…) pada blog yang sebenarnya sudah saya buat beberapa bulan yang lalu. Saya memutuskan untuk menulis blog di tahun 2012 ini sebagai sebuah bentuk pembelajaran menulis dan menuangkan “something which is dancing in my head”, juga sebagai tempat saya mensharingkan perjalanan iman saya bersama dengan Teman terdekat saya, Tuhan Yesus, yang menerima saya apa adanya, dan yang saya percaya tidak hanya selalu hadir dalam setiap “sudut-sudut” yang indah dalam hidup saya, tetapi juga di “sudut-sudut” tergelap dalam hidup saya (tidak tahan rasanya air mata saya ingin menetes setiap saya mengingat kasih-Nya yang “unspeakable” itu).

Saya memberikan title dari blog ini “Start Living It”, bukan untuk “menggurui atau mengkhotbahi” teman-teman yang membaca blog ini, tetapi lebih kepada “mengkhotbahi” diri saya sendiri, sebagai reminder buat saya untuk tidak hanya “mempelajari” Tuhan (ah, siapa saya bisa mempelajari Tuhan? jika bukan Dia yang menyatakan diri-Nya terlebih dahulu kepada saya), tetapi juga “mengalami” Tuhan dalam kehidupan saya tiap-tiap hari.

Paulus menuliskan kepada jemaat di Kolose (The Message translation):

You’re deeply rooted in him. You’re well constructed upon him. You know your way around the faith. Now do what you’ve been taught. School’s out; quit studying the subject and start living it! …. (Colossians 2:7)

Paulus tidak ingin mengatakan “Stop studying!” tetapi sebenarnya Paulus ingin orang yang sudah percaya Yesus (mengalami the wedding with Jesus) itu tidak hanya belajar dan mengisi kepalanya dengan firman Tuhan, tetapi juga “menghidupi” firman Tuhan yang sudah ada di dalam kepalanya (sebenarnya firman Tuhan itulah yang menghidupkan seseorang untuk hidup sesuai dengan apa yang Tuhan mau).

The wedding isn’t the end of the relationship; it’s only the first day. Becoming a Christian is the start of living Christ, not just the end of our search for God. If my life isn’t all about growing in Christ, it’s not all it could be.

Sebenarnya “spirit dan passion” ini saya dapatkan di sepanjang tahun 2011 yang lalu saat saya bertemu dan membaca buku-buku yang berkaitan dengan “Emerging Church” (saya akan banyak berbicara tentang EC dalam blog ini). Gibbs and Bolger mendefinisikan orang-orang Emerging Church sebagai “those who practice “the way of Jesus” in the postmodern era.”

Inilah kerinduan saya, mempraktekkan “the way of Jesus” dalam konteks zaman postmodern, zaman yang di dalamnya saya hidup, bernafas, bergaul dan mengerjakan panggilan Allah.

Saya sadar apa yang saya tulis dalam blog ini tidaklah sempurna, untuk itu saya ingin mengundang teman-teman untuk mengatakan apa yang teman-teman pikirkan. Seperti semangat “semper reformanda” dan apa yang pernah dituliskan  oleh Scot  Mcknight “This is what I believe, but I could be wrong. What do you think? Let’s talk.”

(Visited 5 times, 1 visits today)

2 Comments

  1. roosmili January 8, 2012 at 8:10 am

    hmmm… baca ini aja langsung udah punya high expectations about this blog. look forward to more posts!

    Reply
  2. jefrylie January 8, 2012 at 12:59 pm

    Thanks for the compliment rossy… Yeaa… Hope I can spend my time for blogging..

    Reply

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *